BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Ilmu ekonomi sebagai bentuk dari usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan
manusia dalam kesehariannya terus mengalami perkembangan seiring berjalannya
waktu. Perekonomian dari berbagai belahan dunia maupun dari negara indonesia
sendiri menunjukan perkembangannya dalam era globalisasi seperti saat
ini,tujuannya tidak lain hanyalah untuk mensejahterakan masyarakat negara
itu sendiri.
Permasalahan yang di alami di indonesia dalam era globalisasi tak hanya
melibatkan kaum politisi saja,namun masyarakat indonesia sendiri turut berperan
penting dalam kemajuan perekonomian di indonesia. Selain sumber daya manusia
itu sendiri,agama,kebudayaan,sumber daya alam,letak geografis dan ideologi pun
turut serta menjadi pendorong bagi kemajuan dan perkembangan perekonomian
di indonesia.
Dalam perkembangan perekonomian di indonesia,tidak hanya melibatkan satu
negara saja,akan tetapi indonesia masih butuh dan perlunya hubungan
perekonomian dengan negara-negara lainnya,agar terciptanya perekonomian yang
stabil dan berjalan dengan semestinya.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Bagaimanakah pengaruh globalisasi
terhadap perdagangan Indonesia?
1.3 TUJUAN PENULIS
1.
Untuk memenuhi tugas kelompok mata
kuliah kewarganegaraan.
2.
Sebagai media pembelajaran mengena bagai
mana Indonesia dalam menghadapi era globalisasi dan perekonomian terkini di
Indonesia.
3.
Mengetahui apa saja hal yang dihadapi
Indonesia dalam era globalisasi saat ini.
4.
Sebagai bahan diskusi kelas pada
perkuliahan Sistem ekonomi Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 TEORI GLOBALISASI
Cochrane dan Pain menegaskan bahwa dalam kaitannya dengan
globalisasi, terdapat tiga posisi teoritis yang dapat dilihat, yaitu:
·
Para globalis percaya
bahwa globalisasi adalah sebuah kenyataan yang memiliki konsekuensi nyata
terhadap bagaimana orang danlembaga di seluruh dunia berjalan. Mereka
percaya bahwa negara-negara dan kebudayaan lokal akan hilang diterpa kebudayaan dan ekonomi global yang homogen.
meskipun demikian, para globalis tidak memiliki pendapat sama mengenai
konsekuensi terhadap proses tersebut.
·
Para globalis positif dan
optimistis menanggapi dengan baik perkembangan semacam itu dan menyatakan bahwa
globalisasi akan menghasilkan masyarakat dunia yang toleran dan bertanggung
jawab.
·
Para globalis pesimis berpendapat
bahwa globalisasi adalah sebuah fenomena negatif karena hal tersebut sebenarnya
adalah bentuk penjajahan barat (terutama Amerika Serikat) yang memaksa sejumlah bentuk budaya dan konsumsi yang homogen dan
terlihat sebagai sesuatu yang benar dipermukaan. Beberapa dari mereka kemudian
membentuk kelompok untuk menentang globalisasi (antiglobalisasi).
·
Para tradisionalis tidak
percaya bahwa globalisasi tengah terjadi. Mereka berpendapat bahwa fenomena ini
adalah sebuah mitos semata atau, jika memang ada, terlalu dibesar-besarkan.
Mereka merujuk bahwa kapitalisme telah menjadi sebuah fenomena internasionalselama ratusan tahun. Apa yang tengah kita alami saat ini hanyalah
merupakan tahap lanjutan, atau evolusi, dari produksi dan perdagangan kapital.
·
Para transformasionalis berada
di antara para globalis dan tradisionalis. Mereka setuju bahwa pengaruh
globalisasi telah sangat dilebih-lebihkan oleh para globalis. Namun, mereka
juga berpendapat bahwa sangat bodoh jika kita menyangkal keberadaan konsep ini.
Posisi teoritis ini berpendapat bahwa globalisasi seharusnya dipahami sebagai
"seperangkat hubungan yang saling berkaitan dengan murni melalui sebuah
kekuatan, yang sebagian besar tidak terjadi secara langsung". Mereka
menyatakan bahwa proses ini bisa dibalik, terutama ketika hal tersebut negatif
atau, setidaknya, dapat dikendalikan.
2.2 PENGERTIAN GLOBALISASI
Sebelum membahas tentang pengaruh globalisasi pada perekonomian Indonesia,
mesti kita harus paham apa yang dimaksud dengan globalisasi.
Globalisasi adalah suatu proses di mana antarindividu, antarkelompok,
dan antarnegara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan mempengaruhi satu
sama lain yang melintasi batas Negara. Sedangkan Globalisasi
Perekonomian merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan
perdagangan, dimana negara-negara di seluruh dunia menjadi satu kekuata
pasar yang semakin terintegrasi dengan tanpa rintangan batas
teritorial negara. Globalisasi perekonomian mengharuskan penghapusan
seluruh batasan dan hambatan terhadap arus modal, barang dan jasa.
Ketika globalisasi ekonomi terjadi, batas-batas suatu negara akan menjadi
kabur dan keterkaitan antara ekonomi nasional dengan perekonomian internasional
akan semakin erat. Globalisasi perekonomian di satu pihak akan membuka peluang
pasar produk dari dalam negeri ke pasar internasional secara kompetitif,
sebaliknya juga membuka peluang masuknya produk-produk global ke dalam pasar
domestik. contoh nyata dari pengaruh globalisasi ini adalah adanya pasar bebas.
Yaitu dengan tumbuhnya produk-produk luar negeri yang membuat produk Indonesia
kalah saing dipasaran. Ini akibat dari orang-orang Indonesia yang berpikir
bahwa produk-produk luar negeri lebih berkualitas baik daripada produk
dalam negeri.
Tanpa adanya pengembangan produk, sudah pasti produk
mereka tidak akan bisa laku di pasaran. Terlebih sejak CAFTA (China Asia Free
Trade Assosiation) diberlakukan, barang – barang dari China mulai membanjiri
pasar Indonesia. Tidak hanya bentuk serta tampilan produk yang menarik, namun
juga harga yang ditawarkan sangat murah bila dibandingkan dengan produk –
produk buatan Indonesia. Bagi beberapa pelaku industri, terutama yang selama
ini mengandalkan bahan baku import dari China, malah menjadi pihak yang
diuntungkan atas masuknya Indonesia ke dalam pasar bebas Asia. Mereka bisa
mendapatkan bahan baku dengan harga yang jauh lebih murah karena dilakukannya
perjanjian penghapusan tarif import sehingga bisa menekan banyak biaya yang
harus mereka keluarkan. Dengan mendapatkan bahan baku yang murah, maka secara
otomatis kegiatan industri bisa semakin berkembang. Itu merupakan contoh
positif dari pengaruh globalisasi pada perkembangan ekonomi Indonesia.
Mitos yang hidup selama ini tentang globalisasi adalah bahwa proses
globalisasi akan membuat dunia seragam. Proses globalisasi akan menghapus
identitas dan jati diri. Kebudayaan lokal atau etnis akan ditelan oleh kekuatan
budaya besar atau kekuatan budaya global. Anggapan atau jalan pikiran di atas
tersebut tidak sepenuhnya benar. Kemajuan teknolohi komunikasi memang telah
membuat batas-batas dan jarak menjadi hilang dan tak berguna. Jhon
Naisbutt ( 1988 ) dalam bukunya yang berjudul Global Paradox ini
memperlihatkan hal yang justru bersifat paradox dari fenomena globalisasi.
Naisbitt ( 1988 ) mengemukakan pokok-pokok pikiran lain yang paradox,yaitu
semakin kita menjadi universal,tindakan kita semakin kesukuan,dan berfikir
lokal,bertindak global. Hal ini dimaksudkan kita harus mengkonsentrasikan
kepada hal-hal yang bersifat etnis,yang hanya dimiliki oleh kelompok atau
masyarakat itu sendiri sebagai modal pengembangan ke dunia internasional.
Di sisi lain,ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung
oleh negara-negara adikuasa,sehingga bisa saja orang memiliki oandangan negatif
atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini,globalisasi tidak lain adalah
kapitalisme dalam bentuknya yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan
kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin
tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab,globalisasi cenderung
berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia,bahkan berpengaruh terhadap
bidang-bidang lain seperti budaya dan agama.
Berikut ini adalah ciri-ciri yang menandakan semakin berkembangnnya fenomena
globalisasi di dunia. Hilir mudiknya kapal-kapal pengangkut barang antar negara
menunjukan keterkaitan antarmanusia di seluruh dunia:
a.
Perubahan dalam konsep ruang dan waktu.
Perkembangan barang-barang seperti telepon genggam,televisi satelit,dan
internet menunjukan bahwa komunikasi global terjadi demikian cepatnya,sementara
melalui pergerakan massa semacam turisme memungkinkan kita merasakan banyak hal
dari budaya yang berbeda.
b.
Pasar dan produksi ekonomi di
negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari
pertumbeuhan perdagangan internasional,peningkatan pengaruh perusahaan
multinasional,dan dominasi organisasi semacam World Trade Organization ( WTO ).
c.
Peningkatan interaksi kultural melalui
perkembangan media masa ( terutama televisi,film,musik,dan transmisi berita dan
olah raga internasional ). Saat ini,kita dapat mengonsumsi dan mengalami
gagasan dan pengalaman baru mengenao hal-hal yang melintasi beraneka ragam
budaya. Misalnya dalam bidang fashion,literatur dan makanan.
d.
Meningkatnya masalah bersama,misalnya
pada bidang lingkungan hidup,kirsis multinasional inflansi regional dan
lain-lain.
Kennedy dan Choen menyimpulkan bahwa transformais ini telah membawa kita
pada globalisme,sebuah kesadaran dan pemahaman baru bahwa dunia adalah satu.
Giddens menegaskan bahwa kebanyakan dari kitan dalam sa sadar bahwa sebenarnya
diri kita turut ambil bagian dalam sebuah dunia yang harus berubah tanpa
terkendali yang di tandai dengan selera dan rasa ketertarikan akan hal
sama,perubahan dan keridakpastian,serta kenyataan yang mungkin terjadi. Selain
dengan itu, Petter Drucker menyebutkan globalisasi sebagai zaman transformasi
sosial. Setiap beberapa ratus tahun dalam sejarah manusia,transformasi hebat
terjadi. Dalam beberapa dekade saja,masyarakat telah berubah kembali baik dalam
pandangan mengenai dunia,nilai-nilai dasar,struktur politik dan sosial,maupun
seni. Lima puluh tahun kemudai muncullah sebuah dunia baru.
Pendukung
globalisasi ( sering juga disebut dengan pro-globalisasi ) menganggap bahwa
globalisasi dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran ekonomi masyarakat
dunia. Mereka berpijak pada teori keunggulan komparatif yang dicetyuskan olehDavid
Ricardo. Teori ini menyatakan bahwa suatu negara dengan negara lain
seling bergantungan dan dapatsaling menguntungkan satu sama lainnya,dan salah
satu bentuknya adalah ketergantungan dalam bidang ekonomi. Kedua
negara dapat melakukan transaksi pertukaran sesuai dengan keunggulan komparatif
yang di milikinya. Misalnya,jepang memiliki keunggulan komparatif pada produk
kamera digital ( mampu mencetak lebih efisien dan bemutu tinggi ) sementara
Indonesia memiliki keunggulan pada kainnya. Dengan teori ini,jepang di anjurkan
untuk menghentikan produksi digital,lalu menutup kekurangan penawaran kain
dengan membelinya dair Indonesia,begitu juga sebaliknya.
Salah
satu penghambat utama terjadinya kerjasama diatas adalah adanya larangan-larangan
dan keijakan proteksi dari pemerinta suatu negara. Si satu sisi,kebijakan ini
dapat melindungi produksi dalam negri,namun di sisi lain,hal ini akan
meningkatkan biaya produksi dalam negri,namun di sisi lain,hal ini akan
meningkatkan biaya produksi barang impor sehingga sulit menembus pasar ngeara
yang di tuju. Para pro-globalisai tidak setujua akan diadakannya kebijakan
perdagangan bebas sehingga harga barang-barang dapat ditekan,akbiatnya
permintaan akan meningkat. Karena permintaan akan meningkat,kemakmuran akan
meningkat dan begitu seharusnya.
Beberapa
faktor pro-globalisme juga mengkritik Bank dunia dan IMF,mereka berpendapat
bahwa kedua badan tersebut hanya mengontrol dan mengalirkan dana kepada suatu
negara,bukan kepada suatu koperasi atau perusahaan, sebagai hasilnya,banyak
pinjaman yang mereka berikan jatuh tangan kepada para diktator yang kemudian
menyelewengkan dan tidak mengunakan dana tersebut sebagai mana
mestinya,meninggalkan rakyatnya dalam lilitan hutang negara,dan sebagai akibatnya
tingkat kemakmuran akan menurun. Karena tingakat kemakmuran menurun,akibatnya
masyarakat negara itu terpaksa mengurangi tingkat konsumsinya; termasuk
konsumsi barang impor,sehingga laju globalisasi akan terhambat dan menurut
mereka mengurangi tingkat kesejahteraan penduduk dunia.
Antiglobalisasi adalah suatu istilah yang umum digunakan untuk memaparkan sikap
politis orang-orang dan kelompok yang menentang perjanjian degan global dan
lembaga-lembaga yang mengatur perdagangan natar negara seoerti organisasi
perdagangan dunia ( WTO ). “ Antiglobalisasi” dianggap oleh sebagian orang
sebagai gerakan sosial,sementara yang lainnya menganggap sebagai istilah umum
yang mencakup sejumlah gerakan sosial yang berbeda-beda. Apapun juga
maksudnya,para peserta dipersatukan dalam perlawanan terhadap ekonomi dan
sistem perdagangan global saat ini,yang menurut mereka mengikis lingkungan
hidup,hak-hak buruh,kedaulatan nasional,dunia ketiga dan banyak lagi
penyebab-penyebab lainya, namun,orang-orang yang dicap “antiglobalisasi” sering
menolak istilah itu,dan mereka lebih suka menyebut diri mereka sebagai Gerakan
Keadilan Global,Gerakan dari semua gerakan atau sejumlah istilah lainya.
2.3 CIRI-CIRI GLOBALISASI TERHADAP EKONOMI
Berikut ini beberapa ciri yang
menandakan semakin berkembangnya fenomena globalisasi di dunia.Hilir mudiknya
kapal-kapal pengangkut barang antar negara menunjukkan keterkaitan antar
manusia di seluruh dunia.
1. Perubahan dalam Konstantin ruang dan waktu. Perkembangan barang-barang
seperti telepon genggam, televisi satelit, dan internet menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi demikian cepatnya,
sementara melalui pergerakan massa semacam turisme memungkinkan kita merasakan
banyak hal dari budaya yang berbeda.
2. Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai
akibat dari pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh
perusahaan multinasional, dan dominasi organisasi semacam World Trade Organization (WTO).
3. Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media massa
(terutama televisi, film, musik, dan transmisi berita dan olah raga
internasional). saat ini, kita dapat mengonsumsi dan mengalami gagasan dan
pengalaman baru mengenai hal-hal yang melintasi beraneka ragam budaya, misalnya
dalam bidang fashion, literatur, dan makanan.
4. Meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis
multinasional,inflasi regional dan lain-lain.
2.4 GLOBALISASI EKONOMI DAN PEREKONOMIAN
INDONESIA
Perekonomian dunia mengalami perubahan sejak dasarwarsa tujuh puluh hingga
tahun 2000 an yang bersifat mendasar atau struktural serta mempunyai
kecenderungan jangka panjang dan konjungtural. Perubahan dan perkembangan ini
dikenal orang dengan istilah globalisasi.
Gejala globalisasi terjadi pada kegiatan finansial,produksi,investasi
perdagangan yang kelak berpengaruh pada hubungan antar bangsa dan hubungan
antar individu dalam segala aspek kehidupan. Hubungan antar bangsa menjadi
lebih saling tergantung yang bahkan menjadikan ekonomi dunia menjadi satu
sehingga seolah-olah batas antar negara dalam kegiatan perdagangan,bisnis tidak
ada lagi.( boarderless world).
Pada umumnya negara di dunia menghadapi perkembangan tersebut dengan
melakukan langkah penyesuaian baik dalam wilayah regional maupun masing
individu negara yang kecenderungannya mengarah kepada proteklionisme. Hal
tersebut terlihat jelas dengan munculnya blok blok perdagangan yang pada
intinya justru melanggar kesepakatan yang di tuangkan dalam WTO.
Globalisasi ekonomi ditandai dengan makin menipisnya batas-batas investasi atau
pasar secara nasional,regional ataupun internasional. Hal ini disebabkan oleh :
1.
Komunikasi dan transportasi yang semakin
canggih.
2.
Lalu lintas devisa yang makin bebas.
3.
Ekonomi negara yang makin terbuka.
4.
Penggunaan secara keunggulan komparatif
dan keunggulan kompetitif tiap-tiap negara.
5.
Metode produksi dan
perakitan dengan organisasi yang makin efisien.
6.
Semakin pesatnya
perkembangan perusahaan multinasional (MNC) di hampir segala penjuru dunia.
Steiner ( 1997 ) menjelaskan bahwa ada tiga faktor yang mendorong
terjadinya perubahan global. Pertama,produk nasional kotor (GNP) tumbuh dan
meningkat dengan cepat,terutama di negara-negara maju. Kedua,revolusi dalam
tekonologi komunikasi. Ketiga,kekuatan-kekuatan yang mempermudah munculnya
perusahaan besar berskala global.
1. Kebijakan Perdagangan Era Globalisasi Ekonomi
Kebijakan perdagangan dalam periode memasuki era lepas landas diarahkan pada
penciptaan dan pemantapan kerangka landas perdagangan yaitu dengan meningkatkan
efisiensi perdagangan dalam negri dan perdagangan luar negri dengan tujuan
untuk memperlancar arus barang dan jasa,mendorong pembentukan harga yang layak
dalam iklim persaingan yang sehat,menunjang usaha peningkatan efisiensi
produksi,mengembangkan ekspor,memperluas kesemoatan berusaha dan lapangan
kerja,meningkatkan dan memeratakan pendapatan rakyat serta memantapkan
stabilitas ekonomi.
Kerangka landasan yang ingin dicapai tersebut meliputi unsur-unsur sebagai
berikut :
a.
Penciptaan sturktur ekspor non migas
yang kuat dan tangguh dengan cara melakukan diversifikasi produk maupun pasar
serta pelakunya.
b.
Pencitaan sistem distribusi nasional
yang efektif dan efisien dalam rangka meningkatkan data saing produk
ekspor,mempertahankan tingkat harga yang stabil dalam negeri.
c.
Peningkatan daya saing usaha pelaku
dalam kegiatan ekonomi perdaganagn baik dalam negri maupun ekspor dengan
memupuk kebersamaan yang kokoh dalam menghadapi pasar dunia yang makin ketat.
d.
Transparansi pasar dan pengelolaan
kegiatan perdagangan dengan membangun sistem jaringan perdagangan.
e.
Meningkatkan peran lembaga penunjang
perdagangan seperti badan pelaksana bursa komditi,pasar lelang,BPEN,dan
lain-lain.
2. Peluang dan Tantangan bagi Dunia bisnis
Terbukanya pasar dunia akibat globalisasi ekonomi membuka peluang bisnis antara
lain :
a.
Tersebarnya pasar yang lebih luas
skalanya dan terdiversifikasinya barang manufaktur dan produk yang mempunyai
nilai tambah tinggi ( value added products).
b.
Terjadi relokasi industri menufaktur
dari negara industri maju ke negara-negara sedang berkembang dengan upah buruh
yang lebih murah. Sebagai konsekuensi logis dari relokasi industri
tersebut,siklus proses bahan baku menjadi produk akhir menjadi lebih pendek.
Hal ini akan menurunkan harga per unit serta meningkatkan volume perdagangan.
c.
Tersedianya sumber pendanan yang dapat
diperoleh dengan biaya yang lebih murah (bunga) karena makin beragamnya
portofolio pendanaan terutama bagi negara yang sedang tumbuh perekonomiannya.
Selain memberikan peluang yang terbuka
lebar bagi dunia bisnis,globalisasi ekonomi juga memberikan dampak negatif bagi
dunia bisnis,antara lain :
a.
Terjadinya tranfer pricing untuk
memarkir dana maupun keuntungan di negara yang menganut tax
shelter (memberikan perlindungan terhadap persembunyian kewajiban
membayar pajak).
b.
Relokasi industri karena footlose
industry membawa pula teknologi kadaluarsa ke negara sedang berkembang
(host country),hal ini terjadi di negara asalnya (home country) teknologi yang
dipakai industri tersebut ketinggalan jaman.
c.
Masuknya FDI ( Foreign direct
investment) dengan tekonlogi canggih,seringkali tidak di imbangi
dengan tersedianya sumberdaya manusia yang siap mengoperasikannya sehingga
membuat ketergantungan pada negara asla investasi tersebut.
d.
Masuknya FDI juga seringkali menimbulkan trade
off politic yang merugikan masyarakat dan pelaku bisnis di dalam
negri.
3. Peran Negara Bangsa dalam Era Globalisasi
Robert giplin,salah satu tokoh realis menyatakan,peran negara bangsa (nation
state) dalam era globalisasi sekarang ini masih sangat diperlukan
(signifikan). Giplin pada awalnya menggugat beberapa keyaninan yang dianut
pendukung globalisasi dan pasar bebas. Menurut gilpin banyak peneliti mempunyai
keyakinan bahwa tengah terjadi pergeseran besar dari ekonomi state dominated ke
arah ekonomi market dominated.Hancurnya Uni soviet,kegagalan
strategi subtitusi impor negara dunia ketiga,dan suksesnya AS pada era 1990an
telah mendorong penerimaan unrestricted market sebagai solusi bagi penyakit
ekonomi modern. Karena peran negara menjadi berkurang sebagai gantinya pasar
akan menjadi mekanisme penting baik untuk perekonomian domestik maupun
perekonomian internasional. Menurutnya peran negara bangsa diyakini akan
menjadi pembuka kearah ekonomi global yang sesungguhnya,yang dicirikan oleh
tiadanya hambatan dalam perdagangan,aliran uang dakam skala global dan kegiatan
internasional perusahaan multinasional.
Namun fakta regionalisme ekonomi berbagai belahan dunia membuktikan bahwa peran
negara bangsa masih relevan. Regionalisme ini menunjukan respon penting dari
negara bangsa dalam menyelesaikan secara bersama-sama masalah politik dan
interdependensi yang tinggi dari ekonomi global yang hypercompetitive. Di
banding regionalisme pada tahun 1950an dan 1960an,bentuk regionalisme ekonomi
ini mewakili signifikan dalam ekonomi global. Kadangkala regionalisme ekonomi
ini mewakili kepentingan individual negara bangsa baik untuk kepentingan mereka
di level nasional maupun kolektif.
Karena ekonomi global semakin terintegrasi,pengelompokan regional negara bangsa
telah meningkatkan kerjasama dalam rangka memperkokoh otonomi,memperbaiki
posisi tawar dan memperjuangkan kepentingan individual negara bangsa baik untuk
kepentingan mereka di level nasional maupun kolektif.
Karena ekonomi global semakin terintegrasi,pengelompokan regional negara
bangsa telah meningkatkan kerjasama dalam rangka memperkokoh
otonomi,memperbaiki posisi tawar,dan memperjuangkan kepentingan ekonomi politik
lainnya. Dimasa sekarang ini peran negara bangsa justru dibutuhkan demi
berlakunya perdagangan bebas seperti harapan neolibera. Hambatan-hambatan
perdagangan tidak mungkin dihilangkan tanpa adanya dukungan kebijakan yang pada
gilirannya makin menunjukan peran negara bangsa makin diperlukan dalam
perekonomian global.
4. Dampak Globalisasi Ekonomi Terhadap Indonesia
Sejak tahun 1993,OECD sudah memberi sinyal Indonesia akan dirugikan dengan
berlakunya liberalisasi perdagangan internasional. Akan tetapi Soeharto sebagai
pengusaha Orde Baru yakin sekali dengan prakarsa perdagangan bebas. Akhirnya
yang terjadi adalah ramalan OECD tersebut terbukti,yakni indonesia justru
menghadapi persaingan baru dari negara-negara maju yang mampu menghasilkan
produk dengan kualitas baik dan harga bersaing. Sedang produk Indonesia sulit
masuk ke pasar negara maju karena dihambat dengan pencabutan fasilitas
kemudahan ekspor yang bernamaGeneralized system of perfernce. GPS ini
merupakan fasilitas yang diberikan oleh Departemen Perdagangan AS kepada
sejumlah negara untuk mengurangi dan menghilangkan pajak impor bagi negara yang
dianggap berdagang secara “sehat” dengan AS.
Sejak peristiwa WTC 11 September 2001, AS khususnya melakukan proteksi yang
dikemas dengan istilah undang-undang bio-terrorism,iso-labeling,eco-labeling
ditambang embargo ekonomi dan sangsi ekonomi. Peristiwa Santa Cruz di Timor
Timur (waktu itu) membuat Indonesia diembargo dalam padagan alat militer dan
juga perdagangan ekspor Indonesia ke AS. Tekanan paling keras dilakukan AS
terhadap negara industri baru di Asia Timur termasuk Indonesia. Hal ini
dilakukan oleh AS guna menyeimbangkan neraca perdagangan As yang merosot pada
beberapa tahun terakhir ini. Hal ini tentu berdampak pada perekonomian nasional
karena masuknya produk asing,embargo dan proteksi negara tujuan ekspor
khususnya AS menjadikan daya saing produk domestik lemah dan munculnya efek
domino karena tutupnya sejumlah industri,yaitu PHK dan pengangguran.
Perluasan ekspor Indonesia terasa makin berat sejak dicabutnya GPS tahun 2005,belum
lagi halangan masuk (entry barrier) yang sengaja diciptakan oleh
negara maju. Sehingga ekspor tekstil Indonesia tidak memiliki kuota untuk masuk
pasar AS. Didalam negri gempuran produk China terus menerut terjadi,sehingga
beberapa industri domestik rontk dan merumahkan karyawannya.
Globalisasi bukan hanya menggermpur pelaku ekonomi di negara sedang berkembang.
Globalisasi mampu mengendalikan demokrasi bahkan bertindak lebih jauh dengan
mendikte apa yang harus dilakukan pemenang pemilu yang diselenggarakan secara
demokratis sekalipun. Rakyat memang menentukansiapa yang menang dalam pemilihan
umum. Namun siapa yang akan duduk di kabinet bisa ditentukan oleh konstituen
pasar yang beradai di sentra finansial global.
Hal diatas bisa terlihat jelas waktu presiden Soerharto kembali menduduki kursi
kepresidenan tahun 1996,presiden AS Bill Cliton mengutus Walter
Mondale datang ke Indonesia membujuk Soerharto agar sepenuhnya
melakukan liberalisasi ekonomi sesuai resep dari IMF. Mondale menunjukan jika
Soeharto mengisi kabinetnya dengan menteri yang anti globalisasi makan pasar
akan merespon negatif.
Di pasar global Indonesai tidak menghadapi persaingan biasa yang hanya
menggantuknan diri pada mekanisme pasar,tetapi Indonesia mengahadapi kekuatan
yang terpola. Kekuatan ini bisa membentuk TNCs,MNCs,pemerintahan negara
kaya,lembaga dunia seperti IMF,World Bank dan WTO. Indonesia saat ini berada
dalam jebakan “Perang modern” yang dimulai dari krisis moneter 1997/1998.
(Deliarnov 2006).
5. Peran World Bank dalam Perekonomian Indonesia
Tiga pulu tahun (1967-1998) dukungan
yang telah diberikan oleh Bank Dunia mencapai lebih dari US$ 25M. Porsi
terbersar dari pembiayaan tersebut disedot oleh pembanguan infrastruktur yakni
sebesar 40%. Sektor pertanian mencapai porsi 19%,sektor pembangunan
perkotaan,air bersih dan sanitasi mencapai 10%.
Pada dekade 1980-an,bank dunia mengawali
program bantuan untuk merestrukturisai sektor keuangan,selain upaya
pemerintahan melakukan deregulasi sektor perbankan pada tahun 1983. Sedangkan
selama kurun waktu 1990-1998 perhatian bank dunia tersedot pada maslaha
lingkungan hidup. Prasyarat lingkungan hidup dijadikan prasyarat dalam
memberikan pinjaman pada Indonesia. Misalnya pinjaman pada sektor pertanian
dikaitkan dengan penghutanan kembali (reforestration) yang memang
sangat penting untuk dilakukan. Bahkan munculnya UU Lingkungan Hidup dan
terbentuknya Bapedal juga tidak lepas dari dukunga Bank dunia.
Perkembangan perekonomian Indonesia
sejak Pelaita 1 sampai dengan Pelita VI sangat mengagumkan sehingga Indonesia
dianggap sebagai salah satu “Asian Miracel”. Stabilitas ekonomi terjaga
memungkinkan investor melakukan ekspansi. Bank dunia terus menindak lanjuti
pembiayaan bagi sektor keuangan (tahun fiskal 1993) yang bertujuan untuk memacu
liberalis sektor keuangan. Namu upaya ini gagal karena tidak mencapai hasil
yang di harapkan dan membuahkan hasil krisis moneter pada tahun 1997.
2.5
BAIK DAN BURUKNYA GLOBALISASI
TERHADAP PEREKONOMIAN
a. Dampak positif globalisasi antara lain:
·
Mudah memperoleh informasi dan ilmu
pengetahuan
·
Mudah melakukan komunikasi
·
Cepat dalam bepergian (mobilitas tinggi)
·
Menumbuhkan sikap kosmopolitan dan
toleran
·
Memacu untuk meningkatkan kualitas diri
·
Mudah memenuhi kebutuhan
b. Dampak negatif globalisasi antara lain:
·
Informasi yang tidak tersaring
·
Perilaku konsumtif
·
Membuat sikap menutup diri, berpikir
sempit
·
Pemborosan pengeluaran dan meniru
perilaku yang buruk
·
Mudah terpengaruh oleh hal yang tidak
sesuai dengan kebiasaan atau kebudayaan suatu negara
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
·
Globalisasi
ekonomi yang saat ini sedang terjadi harus kita hadapi dengan persiapan yang
matang. Persiapan itu datang dari pemeritah, pengembangan usaha dan peningkatan
SDM yang baik sehingga tercipta sebuah sistem perekonomian yang kokoh agar
perekonomian Indonesia tumbuh secara positif.
Pertumbuhan ekonomi yang ada harus seiring sejalan dengan adanya proteksi jati diri Negara. Sebab, Globalisasi dapat menghapuskan batasan budaya dan menghilangkan jati diri sebuah bangsa apabila bangsa tersebut keblablasan dalam memberikan kebebasan ber-globalisasi.
Pertumbuhan ekonomi yang ada harus seiring sejalan dengan adanya proteksi jati diri Negara. Sebab, Globalisasi dapat menghapuskan batasan budaya dan menghilangkan jati diri sebuah bangsa apabila bangsa tersebut keblablasan dalam memberikan kebebasan ber-globalisasi.
·
Globalisasi merupakan
suatu proses yang mencakup keseluruhan dalam berbagai bidang kehidupan sehingga
tidak tampak lagi adanya batas-batasyang mengikat secara nyata, sehingga
sulit untuk disaring atau dikontrol Bahwa
proses terjadinya globalisasi dalam aspek sosial terjadi dengan caramelalui
media televise baik secara langsung maupun tidak langsung, sertamelalui
interaksi yang terjadi dimasyarakat.Bahwa
dampak yang ditimbulkan era globalisasi pada aspek sosial
yaituterjadi perubahan ciri kehidupan masyarakat desa yang tadinya syaratdengan nilai-nilai gotong royong menjadi individual, serta sifat inginselalu
instant pada diri seseorang. Bahwa
penanggulangan pada dampak era globalisasi pada aspek sosialdiantaranya diadakannya pembangunan kualitas
manusia, pemberian lifeskill, memberikan sikap hidup yang global dan
menumbuhkan wawasan,identitas rasional serta menciptakan pemerintahan yang
transparan dan demokratis.