Jumat, 23 Desember 2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
Ilmu ekonomi sebagai bentuk dari usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam kesehariannya terus mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu. Perekonomian dari berbagai belahan dunia maupun dari negara indonesia sendiri menunjukan perkembangannya dalam era globalisasi seperti saat ini,tujuannya tidak lain hanyalah  untuk mensejahterakan masyarakat negara itu sendiri.
Permasalahan yang di alami di indonesia dalam era globalisasi tak hanya melibatkan kaum politisi saja,namun masyarakat indonesia sendiri turut berperan penting dalam kemajuan perekonomian di indonesia. Selain sumber daya manusia itu sendiri,agama,kebudayaan,sumber daya alam,letak geografis dan ideologi pun turut serta  menjadi pendorong bagi kemajuan dan perkembangan perekonomian di indonesia.
Dalam perkembangan perekonomian di indonesia,tidak hanya melibatkan satu negara saja,akan tetapi indonesia masih butuh dan perlunya hubungan perekonomian dengan negara-negara lainnya,agar terciptanya perekonomian yang stabil dan berjalan dengan semestinya.
1.2  RUMUSAN MASALAH
Bagaimanakah pengaruh globalisasi terhadap perdagangan Indonesia?
1.3  TUJUAN PENULIS
1.    Untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah kewarganegaraan.
2.    Sebagai media pembelajaran mengena bagai mana Indonesia dalam menghadapi era globalisasi dan perekonomian terkini di Indonesia.
3.    Mengetahui apa saja hal yang dihadapi Indonesia dalam era globalisasi saat ini.
4.    Sebagai bahan diskusi kelas pada perkuliahan Sistem ekonomi Indonesia.















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 TEORI GLOBALISASI
Cochrane dan Pain menegaskan bahwa dalam kaitannya dengan globalisasi, terdapat tiga posisi teoritis yang dapat dilihat, yaitu:
·        Para globalis percaya bahwa globalisasi adalah sebuah kenyataan yang memiliki konsekuensi nyata terhadap bagaimana orang danlembaga di seluruh dunia berjalan. Mereka percaya bahwa negara-negara dan kebudayaan lokal akan hilang diterpa kebudayaan dan ekonomi global yang homogen. meskipun demikian, para globalis tidak memiliki pendapat sama mengenai konsekuensi terhadap proses tersebut.
·        Para globalis positif dan optimistis menanggapi dengan baik perkembangan semacam itu dan menyatakan bahwa globalisasi akan menghasilkan masyarakat dunia yang toleran dan bertanggung jawab.
·        Para globalis pesimis berpendapat bahwa globalisasi adalah sebuah fenomena negatif karena hal tersebut sebenarnya adalah bentuk penjajahan barat (terutama Amerika Serikat) yang memaksa sejumlah bentuk budaya dan konsumsi yang homogen dan terlihat sebagai sesuatu yang benar dipermukaan. Beberapa dari mereka kemudian membentuk kelompok untuk menentang globalisasi (antiglobalisasi).
·        Para tradisionalis tidak percaya bahwa globalisasi tengah terjadi. Mereka berpendapat bahwa fenomena ini adalah sebuah mitos semata atau, jika memang ada, terlalu dibesar-besarkan. Mereka merujuk bahwa kapitalisme telah menjadi sebuah fenomena internasionalselama ratusan tahun. Apa yang tengah kita alami saat ini hanyalah merupakan tahap lanjutan, atau evolusi, dari produksi dan perdagangan kapital.
·        Para transformasionalis berada di antara para globalis dan tradisionalis. Mereka setuju bahwa pengaruh globalisasi telah sangat dilebih-lebihkan oleh para globalis. Namun, mereka juga berpendapat bahwa sangat bodoh jika kita menyangkal keberadaan konsep ini. Posisi teoritis ini berpendapat bahwa globalisasi seharusnya dipahami sebagai "seperangkat hubungan yang saling berkaitan dengan murni melalui sebuah kekuatan, yang sebagian besar tidak terjadi secara langsung". Mereka menyatakan bahwa proses ini bisa dibalik, terutama ketika hal tersebut negatif atau, setidaknya, dapat dikendalikan.
2.2 PENGERTIAN GLOBALISASI
Sebelum membahas tentang pengaruh globalisasi pada perekonomian Indonesia, mesti kita harus paham apa yang dimaksud dengan globalisasi.
Globalisasi adalah suatu proses di mana antarindividu, antarkelompok, dan antarnegara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan mempengaruhi satu sama lain yang melintasi batas Negara. Sedangkan Globalisasi Perekonomian merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, dimana negara-negara di seluruh dunia menjadi satu kekuata pasar yang semakin terintegrasi dengan tanpa rintangan batas teritorial negara. Globalisasi perekonomian mengharuskan penghapusan seluruh batasan dan hambatan terhadap arus modal, barang dan jasa.
Ketika globalisasi ekonomi terjadi, batas-batas suatu negara akan menjadi kabur dan keterkaitan antara ekonomi nasional dengan perekonomian internasional akan semakin erat. Globalisasi perekonomian di satu pihak akan membuka peluang pasar produk dari dalam negeri ke pasar internasional secara kompetitif, sebaliknya juga membuka peluang masuknya produk-produk global ke dalam pasar domestik. contoh nyata dari pengaruh globalisasi ini adalah adanya pasar bebas. Yaitu dengan tumbuhnya produk-produk luar negeri yang membuat produk Indonesia kalah saing dipasaran. Ini akibat dari orang-orang Indonesia yang berpikir bahwa produk-produk luar negeri lebih berkualitas baik daripada produk dalam negeri.
Tanpa adanya pengembangan produk, sudah pasti produk mereka tidak akan bisa laku di pasaran. Terlebih sejak CAFTA (China Asia Free Trade Assosiation) diberlakukan, barang – barang dari China mulai membanjiri pasar Indonesia. Tidak hanya bentuk serta tampilan produk yang menarik, namun juga harga yang ditawarkan sangat murah bila dibandingkan dengan produk – produk buatan Indonesia. Bagi beberapa pelaku industri, terutama yang selama ini mengandalkan bahan baku import dari China, malah menjadi pihak yang diuntungkan atas masuknya Indonesia ke dalam pasar bebas Asia. Mereka bisa mendapatkan bahan baku dengan harga yang jauh lebih murah karena dilakukannya perjanjian penghapusan tarif import sehingga bisa menekan banyak biaya yang harus mereka keluarkan. Dengan mendapatkan bahan baku yang murah, maka secara otomatis kegiatan industri bisa semakin berkembang. Itu merupakan contoh positif dari pengaruh globalisasi pada perkembangan ekonomi Indonesia.
Mitos yang hidup selama ini tentang globalisasi adalah bahwa proses globalisasi akan membuat dunia seragam. Proses globalisasi akan menghapus identitas dan jati diri. Kebudayaan lokal atau etnis akan ditelan oleh kekuatan budaya besar atau kekuatan budaya global. Anggapan atau jalan pikiran di atas tersebut tidak sepenuhnya benar. Kemajuan teknolohi komunikasi memang telah membuat batas-batas dan jarak menjadi hilang dan tak berguna. Jhon Naisbutt ( 1988 ) dalam bukunya yang berjudul Global Paradox ini memperlihatkan hal yang justru bersifat paradox dari fenomena globalisasi. Naisbitt ( 1988 ) mengemukakan pokok-pokok pikiran lain yang paradox,yaitu semakin kita menjadi universal,tindakan kita semakin kesukuan,dan berfikir lokal,bertindak global. Hal ini dimaksudkan kita harus mengkonsentrasikan kepada hal-hal yang bersifat etnis,yang hanya dimiliki oleh kelompok atau masyarakat itu sendiri sebagai modal pengembangan ke dunia internasional.
            Di sisi lain,ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa,sehingga bisa saja orang memiliki oandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini,globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuknya yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab,globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia,bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama.
            Berikut ini adalah ciri-ciri yang menandakan semakin berkembangnnya fenomena globalisasi di dunia. Hilir mudiknya kapal-kapal pengangkut barang antar negara menunjukan keterkaitan antarmanusia di seluruh dunia:
a.    Perubahan dalam konsep ruang dan waktu. Perkembangan barang-barang seperti telepon genggam,televisi satelit,dan internet menunjukan bahwa komunikasi global terjadi demikian cepatnya,sementara melalui pergerakan massa semacam turisme memungkinkan kita merasakan banyak hal dari budaya yang berbeda.
b.    Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari pertumbeuhan perdagangan internasional,peningkatan pengaruh perusahaan multinasional,dan dominasi organisasi semacam World Trade Organization ( WTO ).
c.    Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media masa ( terutama televisi,film,musik,dan transmisi berita dan olah raga internasional ). Saat ini,kita dapat mengonsumsi dan mengalami gagasan dan pengalaman baru mengenao hal-hal yang melintasi beraneka ragam budaya. Misalnya dalam bidang fashion,literatur dan makanan.
d.    Meningkatnya masalah bersama,misalnya pada bidang lingkungan hidup,kirsis multinasional inflansi regional dan lain-lain.

Kennedy dan Choen menyimpulkan bahwa transformais ini telah membawa kita pada globalisme,sebuah kesadaran dan pemahaman baru bahwa dunia adalah satu. Giddens menegaskan bahwa kebanyakan dari kitan dalam sa sadar bahwa sebenarnya diri kita turut ambil bagian dalam sebuah dunia yang harus berubah tanpa terkendali yang di tandai dengan selera dan rasa ketertarikan akan hal sama,perubahan dan keridakpastian,serta kenyataan yang mungkin terjadi. Selain dengan itu, Petter Drucker menyebutkan globalisasi sebagai zaman transformasi sosial. Setiap beberapa ratus tahun dalam sejarah manusia,transformasi hebat terjadi. Dalam beberapa dekade saja,masyarakat telah berubah kembali baik dalam pandangan mengenai dunia,nilai-nilai dasar,struktur politik dan sosial,maupun seni. Lima puluh tahun kemudai muncullah sebuah dunia baru.
      Pendukung globalisasi ( sering juga disebut dengan pro-globalisasi ) menganggap bahwa globalisasi dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran ekonomi masyarakat dunia. Mereka berpijak pada teori keunggulan komparatif yang dicetyuskan olehDavid Ricardo. Teori ini menyatakan bahwa suatu negara dengan negara lain seling bergantungan dan dapatsaling menguntungkan satu sama lainnya,dan salah satu bentuknya adalah ketergantungan dalam bidang ekonomi. Kedua negara dapat melakukan transaksi pertukaran sesuai dengan keunggulan komparatif yang di milikinya. Misalnya,jepang memiliki keunggulan komparatif pada produk kamera digital ( mampu mencetak lebih efisien dan bemutu tinggi ) sementara Indonesia memiliki keunggulan pada kainnya. Dengan teori ini,jepang di anjurkan untuk menghentikan produksi digital,lalu menutup kekurangan penawaran kain dengan membelinya dair Indonesia,begitu juga sebaliknya.
      Salah satu penghambat utama terjadinya kerjasama diatas adalah adanya larangan-larangan dan keijakan proteksi dari pemerinta suatu negara. Si satu sisi,kebijakan ini dapat melindungi produksi dalam negri,namun di sisi lain,hal ini akan meningkatkan biaya produksi dalam negri,namun di sisi lain,hal ini akan meningkatkan biaya produksi barang impor sehingga sulit menembus pasar ngeara yang di tuju. Para pro-globalisai tidak setujua akan diadakannya kebijakan perdagangan bebas sehingga harga barang-barang dapat ditekan,akbiatnya permintaan akan meningkat. Karena permintaan akan meningkat,kemakmuran akan meningkat dan begitu seharusnya.
      Beberapa faktor pro-globalisme juga mengkritik Bank dunia dan IMF,mereka berpendapat bahwa kedua badan tersebut hanya mengontrol dan mengalirkan dana kepada suatu negara,bukan kepada suatu koperasi atau perusahaan, sebagai hasilnya,banyak pinjaman yang mereka berikan jatuh tangan kepada para diktator yang kemudian menyelewengkan dan tidak mengunakan dana tersebut sebagai mana mestinya,meninggalkan rakyatnya dalam lilitan hutang negara,dan sebagai akibatnya tingkat kemakmuran akan menurun. Karena tingakat kemakmuran menurun,akibatnya masyarakat negara itu terpaksa mengurangi tingkat konsumsinya; termasuk konsumsi barang impor,sehingga laju globalisasi akan terhambat dan menurut mereka mengurangi tingkat kesejahteraan penduduk dunia.
      Antiglobalisasi adalah suatu istilah yang umum digunakan untuk memaparkan sikap politis orang-orang dan kelompok yang menentang perjanjian degan global dan lembaga-lembaga yang mengatur perdagangan natar negara seoerti organisasi perdagangan dunia ( WTO ). “ Antiglobalisasi” dianggap oleh sebagian orang sebagai gerakan sosial,sementara yang lainnya menganggap sebagai istilah umum yang mencakup sejumlah gerakan sosial yang berbeda-beda. Apapun juga maksudnya,para peserta dipersatukan dalam perlawanan terhadap ekonomi dan sistem perdagangan global saat ini,yang menurut mereka mengikis lingkungan hidup,hak-hak buruh,kedaulatan nasional,dunia ketiga dan banyak lagi penyebab-penyebab lainya, namun,orang-orang yang dicap “antiglobalisasi” sering menolak istilah itu,dan mereka lebih suka menyebut diri mereka sebagai Gerakan Keadilan Global,Gerakan dari semua gerakan atau sejumlah istilah lainya.
2.3 CIRI-CIRI GLOBALISASI TERHADAP EKONOMI
Berikut ini beberapa ciri yang menandakan semakin berkembangnya fenomena globalisasi di dunia.Hilir mudiknya kapal-kapal pengangkut barang antar negara menunjukkan keterkaitan antar manusia di seluruh dunia.
1.    Perubahan dalam Konstantin ruang dan waktu. Perkembangan barang-barang seperti telepon genggam, televisi satelit, dan internet menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi demikian cepatnya, sementara melalui pergerakan massa semacam turisme memungkinkan kita merasakan banyak hal dari budaya yang berbeda.
2.    Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahaan multinasional, dan dominasi organisasi semacam World Trade Organization (WTO).
3.    Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media massa (terutama televisi, film, musik, dan transmisi berita dan olah raga internasional). saat ini, kita dapat mengonsumsi dan mengalami gagasan dan pengalaman baru mengenai hal-hal yang melintasi beraneka ragam budaya, misalnya dalam bidang fashion, literatur, dan makanan.
4.    Meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis multinasional,inflasi regional dan lain-lain.
2.4 GLOBALISASI EKONOMI DAN PEREKONOMIAN INDONESIA
Perekonomian dunia mengalami perubahan sejak dasarwarsa tujuh puluh hingga tahun 2000 an yang bersifat mendasar atau struktural serta mempunyai kecenderungan jangka panjang dan konjungtural. Perubahan dan perkembangan ini dikenal orang dengan istilah globalisasi.
            Gejala globalisasi terjadi pada kegiatan finansial,produksi,investasi perdagangan yang kelak berpengaruh pada hubungan antar bangsa dan hubungan antar individu dalam segala aspek kehidupan. Hubungan antar bangsa menjadi lebih saling tergantung yang bahkan menjadikan ekonomi dunia menjadi satu sehingga seolah-olah batas antar negara dalam kegiatan perdagangan,bisnis tidak ada lagi.( boarderless world).
Pada umumnya negara di dunia menghadapi perkembangan tersebut dengan melakukan langkah penyesuaian baik dalam wilayah regional maupun masing individu negara yang kecenderungannya mengarah kepada proteklionisme. Hal tersebut terlihat jelas dengan munculnya blok blok perdagangan yang pada intinya justru melanggar kesepakatan yang di tuangkan dalam WTO.
            Globalisasi ekonomi ditandai dengan makin menipisnya batas-batas investasi atau pasar secara nasional,regional ataupun internasional. Hal ini disebabkan oleh :
1.    Komunikasi dan transportasi yang semakin canggih.
2.    Lalu lintas devisa yang makin bebas.
3.    Ekonomi negara yang makin terbuka.
4.    Penggunaan secara keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif tiap-tiap negara.
5.     Metode produksi dan perakitan dengan organisasi yang makin efisien.
6.     Semakin pesatnya perkembangan perusahaan multinasional (MNC) di hampir segala penjuru dunia.
Steiner ( 1997 ) menjelaskan bahwa ada tiga faktor yang mendorong terjadinya perubahan global. Pertama,produk nasional kotor (GNP) tumbuh dan meningkat dengan cepat,terutama di negara-negara maju. Kedua,revolusi dalam tekonologi komunikasi. Ketiga,kekuatan-kekuatan yang mempermudah munculnya perusahaan besar berskala global.
1.    Kebijakan Perdagangan Era Globalisasi Ekonomi
                  Kebijakan perdagangan dalam periode memasuki era lepas landas diarahkan pada penciptaan dan pemantapan kerangka landas perdagangan yaitu dengan meningkatkan efisiensi perdagangan dalam negri dan perdagangan luar negri dengan tujuan untuk memperlancar arus barang dan jasa,mendorong pembentukan harga yang layak dalam iklim persaingan yang sehat,menunjang usaha peningkatan efisiensi produksi,mengembangkan ekspor,memperluas kesemoatan berusaha dan lapangan kerja,meningkatkan dan memeratakan pendapatan rakyat serta memantapkan stabilitas ekonomi.
            Kerangka landasan yang ingin dicapai tersebut meliputi unsur-unsur sebagai berikut :
a.    Penciptaan sturktur ekspor non migas yang kuat dan tangguh dengan cara melakukan diversifikasi produk maupun pasar serta pelakunya.
b.    Pencitaan sistem distribusi nasional yang efektif dan efisien dalam rangka meningkatkan data saing produk ekspor,mempertahankan tingkat harga yang stabil dalam negeri.
c.    Peningkatan daya saing usaha pelaku dalam kegiatan ekonomi perdaganagn baik dalam negri maupun ekspor dengan memupuk kebersamaan yang kokoh dalam menghadapi pasar dunia yang makin ketat.
d.    Transparansi pasar dan pengelolaan kegiatan perdagangan dengan membangun sistem jaringan perdagangan.
e.    Meningkatkan peran lembaga penunjang perdagangan seperti badan pelaksana bursa komditi,pasar lelang,BPEN,dan lain-lain.
2.     Peluang dan Tantangan bagi Dunia bisnis
           Terbukanya pasar dunia akibat globalisasi ekonomi membuka peluang bisnis antara lain :
a.    Tersebarnya pasar yang lebih luas skalanya dan terdiversifikasinya barang manufaktur dan produk yang mempunyai nilai tambah tinggi ( value added products).
b.    Terjadi relokasi industri menufaktur dari negara industri maju ke negara-negara sedang berkembang dengan upah buruh yang lebih murah. Sebagai konsekuensi logis dari relokasi industri tersebut,siklus proses bahan baku menjadi produk akhir menjadi lebih pendek. Hal ini akan menurunkan harga per unit serta meningkatkan volume perdagangan.
c.    Tersedianya sumber pendanan yang dapat diperoleh dengan biaya yang lebih murah (bunga) karena makin beragamnya portofolio pendanaan terutama bagi negara yang sedang tumbuh perekonomiannya.
Selain memberikan peluang yang terbuka lebar bagi dunia bisnis,globalisasi ekonomi juga memberikan dampak negatif bagi dunia bisnis,antara lain :
a.    Terjadinya tranfer pricing untuk memarkir dana maupun keuntungan di negara yang menganut tax shelter (memberikan perlindungan terhadap persembunyian kewajiban membayar pajak).
b.    Relokasi industri karena footlose industry membawa pula teknologi kadaluarsa ke negara sedang berkembang (host country),hal ini terjadi di negara asalnya (home country) teknologi yang dipakai industri tersebut ketinggalan jaman.
c.    Masuknya FDI ( Foreign direct investment) dengan tekonlogi canggih,seringkali tidak di imbangi dengan tersedianya sumberdaya manusia yang siap mengoperasikannya sehingga membuat ketergantungan pada negara asla investasi tersebut.
d.    Masuknya FDI juga seringkali menimbulkan trade off politic yang merugikan masyarakat dan pelaku bisnis di dalam negri.
3.    Peran Negara Bangsa dalam Era Globalisasi
         Robert giplin,salah satu tokoh realis menyatakan,peran negara bangsa (nation state) dalam era globalisasi sekarang ini masih sangat diperlukan (signifikan). Giplin pada awalnya menggugat beberapa keyaninan yang dianut pendukung globalisasi dan pasar bebas. Menurut gilpin banyak peneliti mempunyai keyakinan bahwa tengah terjadi pergeseran besar dari ekonomi state dominated ke arah ekonomi market dominated.Hancurnya Uni soviet,kegagalan strategi subtitusi impor negara dunia ketiga,dan suksesnya AS pada era 1990an telah mendorong penerimaan unrestricted market sebagai solusi bagi penyakit ekonomi modern. Karena peran negara menjadi berkurang sebagai gantinya pasar akan menjadi mekanisme penting baik untuk perekonomian domestik maupun perekonomian internasional. Menurutnya peran negara bangsa diyakini akan menjadi pembuka kearah ekonomi global yang sesungguhnya,yang dicirikan oleh tiadanya hambatan dalam perdagangan,aliran uang dakam skala global dan kegiatan internasional perusahaan multinasional.
            Namun fakta regionalisme ekonomi berbagai belahan dunia membuktikan bahwa peran negara bangsa masih relevan. Regionalisme ini menunjukan respon penting dari negara bangsa dalam menyelesaikan secara bersama-sama masalah politik dan interdependensi yang tinggi dari ekonomi global yang hypercompetitive. Di banding regionalisme pada tahun 1950an dan 1960an,bentuk regionalisme ekonomi ini mewakili signifikan dalam ekonomi global. Kadangkala regionalisme ekonomi ini mewakili kepentingan individual negara bangsa baik untuk kepentingan mereka di level nasional maupun kolektif.
            Karena ekonomi global semakin terintegrasi,pengelompokan regional negara bangsa telah meningkatkan kerjasama dalam rangka memperkokoh otonomi,memperbaiki posisi tawar dan memperjuangkan kepentingan individual negara bangsa baik untuk kepentingan mereka di level nasional maupun kolektif.
            Karena ekonomi global semakin terintegrasi,pengelompokan regional negara bangsa telah meningkatkan kerjasama dalam rangka memperkokoh otonomi,memperbaiki posisi tawar,dan memperjuangkan kepentingan ekonomi politik lainnya. Dimasa sekarang ini peran negara bangsa justru dibutuhkan demi berlakunya perdagangan bebas seperti harapan neolibera. Hambatan-hambatan perdagangan tidak mungkin dihilangkan tanpa adanya dukungan kebijakan yang pada gilirannya makin menunjukan peran negara bangsa makin diperlukan dalam perekonomian global.
4.    Dampak Globalisasi Ekonomi Terhadap Indonesia
Sejak tahun 1993,OECD sudah memberi sinyal Indonesia akan dirugikan dengan berlakunya liberalisasi perdagangan internasional. Akan tetapi Soeharto sebagai pengusaha Orde Baru yakin sekali dengan prakarsa perdagangan bebas. Akhirnya yang terjadi adalah ramalan OECD tersebut terbukti,yakni indonesia justru menghadapi persaingan baru dari negara-negara maju yang mampu menghasilkan produk dengan kualitas baik dan harga bersaing. Sedang produk Indonesia sulit masuk ke pasar negara maju karena dihambat dengan pencabutan fasilitas kemudahan ekspor yang bernamaGeneralized system of perfernce. GPS ini merupakan fasilitas yang diberikan oleh Departemen Perdagangan AS kepada sejumlah negara untuk mengurangi dan menghilangkan pajak impor bagi negara yang dianggap berdagang secara “sehat” dengan AS.
            Sejak peristiwa WTC 11 September 2001, AS khususnya melakukan proteksi yang dikemas dengan istilah undang-undang bio-terrorism,iso-labeling,eco-labeling ditambang embargo ekonomi dan sangsi ekonomi. Peristiwa Santa Cruz di Timor Timur (waktu itu) membuat Indonesia diembargo dalam padagan alat militer dan juga perdagangan ekspor Indonesia ke AS. Tekanan paling keras dilakukan AS terhadap negara industri baru di Asia Timur termasuk Indonesia. Hal ini dilakukan oleh AS guna menyeimbangkan neraca perdagangan As yang merosot pada beberapa tahun terakhir ini. Hal ini tentu berdampak pada perekonomian nasional karena masuknya produk asing,embargo dan proteksi negara tujuan ekspor khususnya AS menjadikan daya saing produk domestik lemah dan munculnya efek domino karena tutupnya sejumlah industri,yaitu PHK dan pengangguran.
            Perluasan ekspor Indonesia terasa makin berat sejak dicabutnya GPS tahun 2005,belum lagi halangan masuk (entry barrier) yang sengaja diciptakan oleh negara maju. Sehingga ekspor tekstil Indonesia tidak memiliki kuota untuk masuk pasar AS. Didalam negri gempuran produk China terus menerut terjadi,sehingga beberapa industri domestik rontk dan merumahkan karyawannya.
            Globalisasi bukan hanya menggermpur pelaku ekonomi di negara sedang berkembang. Globalisasi mampu mengendalikan demokrasi bahkan bertindak lebih jauh dengan mendikte apa yang harus dilakukan pemenang pemilu yang diselenggarakan secara demokratis sekalipun. Rakyat memang menentukansiapa yang menang dalam pemilihan umum. Namun siapa yang akan duduk di kabinet bisa ditentukan oleh konstituen pasar yang beradai di sentra finansial global.
            Hal diatas bisa terlihat jelas waktu presiden Soerharto kembali menduduki kursi kepresidenan tahun 1996,presiden AS Bill Cliton mengutus Walter Mondale datang ke Indonesia membujuk Soerharto agar sepenuhnya melakukan liberalisasi ekonomi sesuai resep dari IMF. Mondale menunjukan jika Soeharto mengisi kabinetnya dengan menteri yang anti globalisasi makan pasar akan merespon negatif.
Di pasar global Indonesai tidak menghadapi persaingan biasa yang hanya menggantuknan diri pada mekanisme pasar,tetapi Indonesia mengahadapi kekuatan yang terpola. Kekuatan ini bisa membentuk TNCs,MNCs,pemerintahan negara kaya,lembaga dunia seperti IMF,World Bank dan WTO. Indonesia saat ini berada dalam jebakan “Perang modern” yang dimulai dari krisis moneter 1997/1998. (Deliarnov 2006).
5.     Peran World Bank dalam Perekonomian Indonesia
Tiga pulu tahun (1967-1998) dukungan yang telah diberikan oleh Bank Dunia mencapai lebih dari US$ 25M. Porsi terbersar dari pembiayaan tersebut disedot oleh pembanguan infrastruktur yakni sebesar 40%. Sektor pertanian mencapai porsi 19%,sektor pembangunan perkotaan,air bersih dan sanitasi mencapai 10%.
Pada dekade 1980-an,bank dunia mengawali program bantuan untuk merestrukturisai sektor keuangan,selain upaya pemerintahan melakukan deregulasi sektor perbankan pada tahun 1983. Sedangkan selama kurun waktu 1990-1998 perhatian bank dunia tersedot pada maslaha lingkungan hidup. Prasyarat lingkungan hidup dijadikan prasyarat dalam memberikan pinjaman pada Indonesia. Misalnya pinjaman pada sektor pertanian dikaitkan dengan penghutanan kembali (reforestration) yang memang sangat penting untuk dilakukan. Bahkan munculnya UU Lingkungan Hidup dan terbentuknya Bapedal juga tidak lepas dari dukunga Bank dunia.
Perkembangan perekonomian Indonesia sejak Pelaita 1 sampai dengan Pelita VI sangat mengagumkan sehingga Indonesia dianggap sebagai salah satu “Asian Miracel”. Stabilitas ekonomi terjaga memungkinkan investor melakukan ekspansi. Bank dunia terus menindak lanjuti pembiayaan bagi sektor keuangan (tahun fiskal 1993) yang bertujuan untuk memacu liberalis sektor keuangan. Namu upaya ini gagal karena tidak mencapai hasil yang di harapkan dan membuahkan hasil krisis moneter pada tahun 1997.
2.5  BAIK DAN BURUKNYA GLOBALISASI TERHADAP PEREKONOMIAN
a.    Dampak positif globalisasi antara lain:
·        Mudah memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan
·        Mudah melakukan komunikasi
·        Cepat dalam bepergian (mobilitas tinggi)
·        Menumbuhkan sikap kosmopolitan dan toleran
·        Memacu untuk meningkatkan kualitas diri
·        Mudah memenuhi kebutuhan
b.    Dampak negatif globalisasi antara lain:
·        Informasi yang tidak tersaring
·        Perilaku konsumtif
·        Membuat sikap menutup diri, berpikir sempit
·        Pemborosan pengeluaran dan meniru perilaku yang buruk
·        Mudah terpengaruh oleh hal yang tidak sesuai dengan kebiasaan atau kebudayaan suatu negara


















BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
·        Globalisasi ekonomi yang saat ini sedang terjadi harus kita hadapi dengan persiapan yang matang. Persiapan itu datang dari pemeritah, pengembangan usaha dan peningkatan SDM yang baik sehingga tercipta sebuah sistem perekonomian yang kokoh agar perekonomian Indonesia tumbuh secara positif.
Pertumbuhan ekonomi yang ada harus seiring sejalan dengan adanya proteksi jati diri Negara. Sebab, Globalisasi dapat menghapuskan batasan budaya dan menghilangkan jati diri sebuah bangsa apabila bangsa tersebut keblablasan dalam memberikan kebebasan ber-globalisasi.
·        Globalisasi merupakan suatu proses yang mencakup keseluruhan dalam berbagai bidang kehidupan sehingga tidak tampak lagi adanya batas-batasyang mengikat secara nyata, sehingga sulit untuk disaring atau dikontrol Bahwa proses terjadinya globalisasi dalam aspek sosial terjadi dengan caramelalui media televise baik secara langsung maupun tidak langsung, sertamelalui interaksi yang terjadi dimasyarakat.Bahwa dampak yang ditimbulkan era globalisasi pada aspek sosial yaituterjadi perubahan ciri kehidupan masyarakat desa yang tadinya syaratdengan nilai-nilai gotong royong menjadi individual, serta sifat inginselalu instant pada diri seseorang. Bahwa penanggulangan pada dampak era globalisasi pada aspek sosialdiantaranya diadakannya pembangunan kualitas manusia, pemberian lifeskill, memberikan sikap hidup yang global dan menumbuhkan wawasan,identitas rasional serta menciptakan pemerintahan yang transparan dan demokratis.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar